Senin, 21 Desember 2009

Apakah Bahaya Onani / Masturbasi itu????

ONANI/masturbasi bagi pria secara umum tidak berbahaya. Karena sperma akan berproduksi terus walau sering dikeluarkan.
Hal ini wajar, sperma yang telah penuh...secara otomatis akan meningkatkan hasrat seksual...dan akan disalurkan melalui hubungan seks. Bagi yang belum menikah, mungkin dengan cara manual/secara paksa (onani) itu tadi.
Walaupun tidak dikeluarkan, bila produksi sperma penuh, sperma akan keluar dengan sendirinya. Dengan media 'mimpi basah'.....

TAPI JANGAN terlalu sring...
karena akan menurunkan kualitas sperma sendiri, seperti sperma semakin encer dsb..

Efek lain yang terlihat...badan lelah..loyo, karena pengeluaran sperma memerlukan banyak energi (terkuras).
Jadi sewajarnyalah...sebulan sekali...setahun sekali...hingga nggak sama sekali. SEBENARNYA bukan frekuensinya, tapi kontrol pikiran yang perlu dibenahi. NGGAK PERLU mikir yang porno-porno, cari kesibukan...hingga pikiran itu hilang..bisa dijadikan aktiftas alternatif.

BERIKUT AKIBAT-AKIBAT sebagai referensi bila 'melakukannya' berlebihan:
Beberapa dari setelah-efek yang di timbulkan
1. Sistem syaraf yang paling terpengaruh.
2. Selain jantung, sistem pencernaan sistem, sistem air kencing serta sistem lainnya menjadi buruk terpengaruh dan akibatnya seluruh tubuh menjadi banyak penyakit dengan kelemahan besar.
3. Mata menjadi cekung, tulang pipi menonjol dan ada lingkar hitam sepanjang mata.
4. Terus sakit kepala dan punggung.
5. Pusing dan kehilangan memori.
6. Gigil hati pada list tenaga.
7. Ttimbulnya penyakit saraf
8. Tidak dapat melakukan apapun aktifitas fisik yang berat atau mental kerja lemah.
9. Orang agak senang untuk duduk dalam pengasingan dan menderita dari kelemahan.
10. Melemahkan Semua indera
11. Visi menjadi ada, lidah mulai gagap dan telinga cenderung menjadi tuli dl
12. Terakhir TBC atau gila atau beberapa penyakit serius lainnya menangkap memegang korban untuk memimpin hidupnya untuk dekat.

ANAK INDONESIA RENTAN PENGARUH PORNOGRAFI

Anak-anak dilahirkan dalam kondisi suci. Orang tualah yang anntinya membentuk anak, akan seperti apa. Baik dan buruknya anak, tergantung orang tuanya.

Barisan kalimat di atas adalah benar adanya. Peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak sangat urgen dan tak bisa tidak, sangat menentukan keberadaan anak tersebut di masa akan datang.

Kenyataannya, peran orang tua dewasa ini semakin berat. Betapa tidak. Hantaman era globalisasi telah menafikan aturan yang melarang anak untuk tidak secepatnya mengenal yang namanya pornografi atau pornoaksi.

Di berbagai media, baik itu elektronik maupun cetak, tayangan dan gambar yang mengandung unsur pornografi 'bergentayangan' tak kenal lelah menghantui anak-anak.

Berdasarkan catatan sebuah lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, selain menjadi negara tanpa aturan jelas tentang pornografi, Indonesia juga mencatat rekor sebagai negara kedua setelah Rusia yang paling rentan penetrasi pornografi terhadap anak-anak.

Kondisi seperti itu, sebenarnya telah pula ditangkap Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Lewat beberapa kali penelitian dan survey di lapangan, terkuak kenyataan di lapangan yang mengetengahkan gambaran kehidupan anak-anak Indonesia menjelang remaja, salah satunya adalah kegemaran coba-coba untuk urusan seks.

Salah satunya adalah hasil peneltian di Provinsi Jawa Barat, di mana dari 2.880 remaja yang disurvey BKKBN usia 15-24 tahun, sedikitnya 40 persen mengaku pernah berhubungan seks sebelum nikah.

Tak hanya sampai di situ. Survey juga mencatat sedikitnya remaja usia 15-19 tahun hampir 60 persen diantaranya pernah melihat film porno dan 18,4 persen remaja putri mengaku pernah membaca buku porno. Data terakhir ini diperoleh dari peneltian oleh sejumlah mahasiswa di Universitas Airlangga terhadap 300 responden.

Sayangnya, banyak orang tua yang kadangkala kecplongan soal kegemaran anak-anak mereka yang menjelang remaja ini terhadap pornografi. Masih berdasarkan data terbaru, 25 persen anak-anak bahkan menonton film porno di rumah sendiri, 22 persen di rumah teman dimana materinya didapat dari VCD rental di sekitar rumah.

Lebih parah lagi, kecanggihan teknologi telepon selular telah pula dirambah pornografi. Beberapa penyelidikan bahkan diketahui soal gambar porno yang sampai ke telepon selular atau handphone anak-anak SD.

Bahaya lain yang mengancam anak-anak adalah keberadaan situs porno. Inke Maris dari ASA Indonesia mengutip hasil penelitian di Amerika bahwa setidaknya ada 28 ribu situs porno di internet pada 2000 sementara tiap pekannya hadir 2 ribuan situs porno baru.

Malangnya, di Indonesia, situasi sedemikian tidak segera ditanggapi oleh pihak berwrnang, yakni pemerintah. Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya regulasi yang jelas mengenai pornografi dan pornoaksi serta hukumnya

Sabtu, 19 Desember 2009

REMAJA MEMERLUKAN INFORMASI KESEHATAN REPRODUKSI


*** SUATU ketika, Gita (bukan nama sebenarnya), remaja putri kelas 2 SMA, mengeluh sakit di daerah rahimnya. Diantar kedua orang tuanya, ia memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Ketika memeriksa Gita, betapa terkejutnya sang dokter karena di dalam rahim Gita ditemukan sebuah alat pembuka botol. Alat itulah yang membuatnya kesakitan.

Ketika ditanya, Gita mengatakan memasukkan alat pembuka botol tersebut saat ia melakukan masturbasi.

Pengalaman Susi (bukan nama sebenarnya) lain lagi. Akibat ketidaktahuannya soal kehamilan, pelajar SMA kelas I itu nekat menggugurkan kandungannya dengan cara memasukkan gabus ke dalam rahimnya. Hasilnya remaja tersebut mengalami infeksi rahim cukup parah.

Kejadian nyata tersebut terungkap pada suatu seminar nasional mengenai Kesehatan Reproduksi di Indonesia, yang berlangsung di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kasus Susi dan Gita adalah contoh ketidaktahuan kaum remaja soal kesehatan reproduksi (kespro) dan dampak hubungan seks terhadap dirinya.

Menurut Siswanto A Wilopo, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), saat ini telah terjadi pergeseran perilaku seksual di kalangan remaja. Tetapi karena ketidaktahuan mereka banyak pula tindakan yang mereka ambil membuat paramedis maupun orang tua terkejut.

Surya, staf Seksi Evaluasi Direktorat Kesehatan Reproduksi Remaja BKKBN juga mengatakan, dari data yang dihimpunnya banyak kaum remaja putri maupun putra mengalami infeksi di alat reproduksinya, bahkan menyebabkan kematian.

''Permasalahan utama kesehatan reproduksi remaja (KRR) di Indonesia, kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, masalah pergeseran perilaku seksual remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung,'' ujar Surya, kepada Media.

Menurut data Kesehatan Reproduksi yang dihimpun Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN, 2002), jelas Surya, informasi KRR secara benar dan bertanggung jawab masih sangat kurang. Pemberian informasi tentang KRR di beberapa tempat masih dipertentangkan, apalagi jika diberi judul pendidikan seksual. ''Masih terdapat anggapan, pendidikan seksual justru akan merangsang remaja melakukan hubungan seksual. Selain itu sebagian besar orang tua yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hal ini, tidak memiliki kemampuan menerangkan serta tidak memiliki informasi memadai.''

Padahal, lanjutnya, survei yang dilakukan WHO (organisasi kesehatan dunia) di beberapa negara memperlihatkan, adanya informasi yang baik dan benar, dapat menurunkan permasalahan kesehatan reproduksi pada remaja.

Perubahan hormon

Masalah yang dialami remaja tersebut sebetulnya tidak semata akibat pergeseran budaya atau pengaruh pergaulan. Kemajuan dalam perbaikan gizi di Indonesia juga ternyata menjadi pemicu pergeseran perilaku seksual di kalangan remaja.

Kasubdit Kesehatan Reproduksi Remaja BKKBN A Djabbar Lukman yang ditemui Media di ruang kerjanya mengakui peningkatan gizi saat ini mengakibatkan hormon seorang anak menjadi lebih cepat matang. Akibatnya seorang remaja putri akan lebih cepat mengalami menstruasi dan kematangan organ-organ reproduksi. Ini juga yang menyebabkan hasrat seksual mulai timbul pada usia relatif muda.

''Selain hormon, pengaruh lingkungan juga menjadi salah satu penyebab timbulnya pergeseran perilaku remaja. Globalisasi menyebabkan aksesibilitas remaja terhadap pornografi menjadi lebih mudah. Ribuan situs porno di internet serta media-media lain, seperti tabloid porno, komik hentai (komik porno Jepang) yang bertebaran di sekeliling remaja menjadi salah satu stimulan pergeseran perilaku para remaja saat ini,'' tutur Djabbar.

Untuk itu, lanjutnya, hingga saat ini pihaknya masih berusaha meng-counter serangan informasi bertubi-tubi. Salah satunya dengan menerbitkan buku mengenai kesehatan reproduksi remaja, menyampaikan berbagai informasi, salah satunya dengan meluncurkan alat ajar mengenai remaja dan berbagai permasalahannya termasuk kesehatan reproduksi dan narkoba.

Alat ajar berupa sarana multimedia tersebut rencananya akan segera disosialisasikan ke daerah-daerah dalam waktu dekat ini. Selain itu BKKBN bekerja sama dengan berbagai LSM, sekolah, pesantren, pramuka serta media elektronik melakukan program konseling dan penyampaian informasi mengenai kesehatan reproduksi.

''Saat ini terdapat 500 pusat konseling remaja yang tersebar di seluruh Indonesia.''

Djabbar juga mengungkapkan, pihaknya tengah mengupayakan agar siswi hamil di tengah masa pendidikan sebaiknya jangan dikeluarkan. Akan lebih baik jika siswi diberi waktu cuti melahirkan, kemudian dapat kembali melanjutkan sekolahnya jika sudah selesai cuti. Karena mereka pun berhak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Berbicara masalah kesehatan reproduksi (kespro) di kalangan remaja jangan dianggap sebagai hal tabu. Keterbukaan antara guru, murid ataupun orang tua di dalam membahas kesehatan reproduksi sangatlah penting saat ini.

''Sekarang ini anak perempuan usia 9 tahun ada yang sudah menstruasi. Anak lelaki pun ada yang sudah mimpi basah. Orang tua harus siap menghadapi semua perubahan di dalam diri anak termasuk membicarakan kespro,'' kata dr Erlina Sutjiadi SpKJ dari RS Siloam Graha Medika.

Menurutnya, keberadaan anak yang sudah menstruasi atau mimpi basah tidak perlu ditutup-tutupi. Orang tua, lanjutnya, harus menerimanya dengan wajar. Meskipun dulu orang tua mengalaminya saat usia 15 tahun. Dan sebaiknya orang tua membicarakan dari hati ke hati tentang apa yang telah dialami anaknya itu.

Erlina menganjurkan orang tua memberikan pendidikan seks kepada anak sejak kecil. ''Bahasa disesuaikan dengan usia anak. Orang tua harus menyampaikan hal-hal penting tentang apa itu fungsi alat reproduksi. Pada perempuan, ibu bisa mengajak anaknya melihat saat ibunya menstruasi. Kenapa ibu setiap bulan mengalami datang bulan dengan mengeluarkan darah. Kenapa ibunya hamil, kemudian melahirkan dan menyusui.''

Anak, kata Erlina, akan merekam apa yang diajarkan oleh ibunya dan melihat sendiri apa yang dialami ibunya. ''Ketika ia besar nanti dan mengalami menstruasi, anak itu tidak akan kaget tiba-tiba mengeluarkan darah setiap bulannya. Dan orang tua pun bisa memberikan penjelasan mengapa anak-anak perlu menjaga kebersihan alat reproduksinya.

Sementara itu, dr Hardi Susanto dari RS Siloam Graha Medika mengatakan, pendidikan seks di dalam keluarga tidak harus membicarakan hubungan seks secara vulgar. Tetapi dengan sebuah teladan yang disampaikan dengan bahasa sehari-hari mudah dimengerti anak.

''Misalnya, bagaimana orang tua mengajarkan anak cebok secara benar. itu sudah mengajarkan kespro. Kalau cebok harus dibasuh air bersih. Cara dari depan ke belakang bukan belakang ke depan. Apabila salah, pada alat genital (alat reproduksi/alat kelamin) perempuan terkena infeksi, karena kuman dari belakang (dubur) masuk ke dalam alat genital. Ini kadang tidak dipahami anak,'' ujar Hardi.

Ginekolog ini mengatakan, ada pasiennya mengalami infeksi pada alat genitalnya karena kebiasaan cebok salah. Infeksi itu bisa karena jamur, bakteri, kuman atau patogen lainnya.

Apabila mengenakan celana pun, lanjutnya remaja diberi tahu harus kering. Karena celana basah akan mempermudah tumbuhnya jamur. Udara lembab. Bila alat reproduksi lembab dan basah, keasaman meningkat dan itu memudahkan pertumbuhan jamur. ''Maka seringlah ganti celana dalam,'' saran Hardi.

Ia juga menganjurkan agar remaja tidak tergiur menggunakan panty liner (semacam pembalut yang tipis). Sebab tidak sesuai dengan iklim di Indonesia. ''Iklim di Indonesia itu panas, lembap, dan mudah berkeringat. Dengan menggunakan panty liner remaja berharap celananya tidak basah. Padahal itu akan menumbuhkan jamur. Banyak pasien saya yang mengalami demikian,'' jelasnya.

Soal pendidikan seks, Hardi menyarankan agar anak-anak mendapatkan informasi yang benar. Dalam penyaluran hasrat seksualnya pun anak-anak lebih baik melakukan kesibukan dengan teman-teman sebaya, seperti olahraga, mengikuti klub science, kemping, bermain musik, dan sebagainya.

''Kesibukan yang cukup banyak selain belajar membuat remaja selalu bersemangat untuk mengejar prestasi. Berbeda dengan anak-anak yang malas beraktivitas mudah tergoda untuk melihat VCD porno, merokok, akhirnya bisa berbuat hal-hal negatif.''

Bila remaja sudah punya pacar, bisa disalurkan dengan pacaran sehat seperti pacaran tidak harus berduaan di tempat sepi, melainkan bergabung dengan teman-temannya agar terhindar hal-hal negatif.

Sebab bila remaja telah hamil maka ia akan membunuh masa depannya dan kesehatan dirinya. ''Banyak remaja hamil ketika melahirkan anak, ia tidak siap mengasuh anaknya.''

Selasa, 01 Desember 2009


Salah satu Program Kerja dari Badan Eksekutif Mahasiswa adalah kerja bakti. Kerja bakti ini dilakukan demi memperbaiki penampilan Universitas Lumajang dan menjalin kerja sama antar pengurus BEM. Program kerja bakti ini dilakukan 1 minggu sekali demi kebersihan dan keasrian Universitas Lumajang.

Selamat bertugas Ketua BEM periode 2009 - 2011. Semoga amanat yang kau emban bisa terlaksana sesuai dengan harapan kami.

Selasa, 24 November 2009


Rapat persiapan pelantikan Bem dan seminar bertemekan BELA NEGARA yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Lumajang yang dipimpin Oleh Ketua BEM (Yanuar Widyanto)